Monday, December 13, 2010

Sinopsis Film Daun Diatas Bantal

Sinopsis

Cerita ini berfokus di mana ketiga anak ini hidup dari menjual ganja dan hidup di jalanan dengan harapan bisa keluar dari kemiskinan mereka. Akar dari permasalahan mereka sebenarnya akibat Asih selalu tidak menghiraukan mereka. Setiap malam ketiga anak ini selalu berkelahi untuk memperebutkan Bantal Daun kepunyaan Asih. tetapi harapan mereka pupus, ketika takdir mereka berakhir tragis.

Jerit dan Tangis Kaum Jalanan

Judul Film : Daun di Atas Bantal
Sutradara : Garin Nugroho
Penulis : Garin Nugroho, Armantono
Produser : Christine Hakim
Pemeran : Heru, Kancil, Sugeng, Christine Hakim, Sarah Azhari, Deni Christanta, Kabri Wali
Penyunting : Sentot Sahid
Durasi : 83 menit

Film Daun di Atas Bantal yang diproduksi oleh Christine Hakim merupakan salah satu karya dari sutradara ternama, Garin Nugroho. Garin Nugroho lahir di Yogyakarta pada 6 Juni 1961. Ia telah menyumbangkan karya-karya seni dalam bentuk film selama hidupnya. Melalui film Daun di Atas Bantal, Garin sebenarnya ingin menceritakan kehidupan anak jalanan dan masyarakat kalangan bawah dengan mengambil setting Kota Yogyakarta pada tahun 1997. Film ini diperankan oleh anak-anak jalanan dengan menggunakan bahasa daerah Yogyakarta.

Film Daun di Atas Bantal menceritakan kehidupan tiga anak jalanan, yang bernama Heru, Sugeng, dan Kancil, beserta ibu angkat mereka, Asih. Mereka hidup miskin di tempat yang kumuh. Di awal cerita, film ini juga menggambarkan kehidupan anak jalanan dengan menampilkan kegiatan anak-anak jalanan yang sebenarnya tidak pantas untuk dilakukan oleh anak-anak seusia mereka, seperti merokok, menindik tubuh, mencuri, menghisap lem, dan minum minuman keras buatan mereka sendiri. Heru, Sugeng, dan Kancil yang merupakan anak jalanan memiliki kegiatan yang jauh berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Mereka mencari uang dengan cara merebut bantal anak jalanan lain yang berisi uang. Pada bagian awal cerita diceritakan bahwa Heru dan Kancil mencuri bantal anak jalanan lain. Pada saat perjalanan pulang ke rumah mereka dengan menggunakan kereta api, mereka berebut bantal tersebut. Kancil yang berhasil mendapatkan bantal segera lari ke atas atap gerbong kereta api. Namun ternyata hal itu membuatnya celaka. Ia menghantam dinding terowongan dan tewas. Setelah kejadian itu, film ini kembali menceritakan kehidupan anak jalanan. Pada bagian tengah cerita diceritakan bahwa Heru secara tiba-tiba memiliki banyak uang dan memberikan banyak hadiah kepada Asih, ibu angkatnya. Namun setalah itu, Heru dibunuh dan menjadi salah satu korban mafia asuransi. Setelah
terbunuhnya Heru, film mulai terfokus pada kehidupan Sugeng dan Asih. Bagian akhir cerita menceritakan tentang buruknya keamanan dalam kehidupan kaum miskin ditandai dengan terbunuhnya Sugeng karena peristiwa salah tusuk. Di akhir cerita juga diceritakan nasib tragis Sugeng yang tidak dapat dikuburkan karena Sugeng tidak terdaftar sebagai warga di daerah tersebut.

Film Daun di Atas Bantal memiliki beberapa keunggulan. Film ini menampilkan kehidupan anak jalanan secara realistis, bahkan pemerannya pun adalah anak-anak jalanan dengan menggunakan bahasa daerah mereka. Namun, film ini juga memiliki beberapa kekurangan. Oleh karena film ini diperankan oleh anak-anak jalanan, terdapat beberapa adegan yang sulit dimengerti karena artikulasi beberapa pemeran kurang baik. Selain itu, ada beberapa adegan yang sistem pencahayaannya kurang baik sehingga adegan-adegan tersebut terkesan gelap.

Film Daun di Atas Bantal sangat bermanfaat untuk mendidik para remaja. Film ini dapat membuat para remaja menyadari betapa kerasnya hidup. Film ini juga layak untuk dilihat oleh orang dewasa. Namun, film ini kurang layak untuk dilihat oleh anak-anak karena ada beberapa adegan yang belum layak untuk dilihat oleh anak-anak.

No comments:

Post a Comment